Alhamdulillah, bayi perempuan tercinta kami lahir tanggal 14 Mei 2010 pukul 13.55 WIB melalui persalinan Sectio Caesario. Hal ini memang diluar perencanaan ku yang dari awal kehamilan selalu optimis bisa melahirkan secara normal. Jadi ceritanya, saat kontrol terakhir ke Spog ku tanggal 10 Mei 2010, ternyata posisi bayiku masih melintang diagonal (kepala di bawah kiri dan kaki di kanan atas). Dan DSOG ku mengkhawatirkan usia bayi yang sudah sangat cukup untuk lahir, berat bayi, serta cairan ketubanku, maka dianjurkannya untuk melangsunkan persalinan secara SC dalam minggu itu juga. Wuihhh,,,, kaget bukan main aku. Saat itu, aku kontrol tidak ditemani suamiku, tapi dengan mamaku. DSOG ku meminta perkiraan kapan kira2 aku siap untuk melangsungkan persalinan SC. Karena belum berkonsultasi dengan suamiku, aku minta waktu, dan memilih perkiraan sekitar hari Jumat untuk persalinanku. Hari senin itu menjadi hari yang sangat mengejutkanku, dan aku pun mulai mempersiapkan mental dan fisikku menjelang persalinan SC.
Selasa pagi, aku kembali ke RS Pondok Indah bersama suamiku untuk mengurus berbagai persyaratan administrasi sekaligus memutuskan untuk memilih kelas VIP untuk persalinanku. Bukan karena kelebihan dana kami memutuskan untuk memilih kelas VIP, karena di kantor aku hanya diganti kelas II. Akan tetapi, kami memikirkan keluarga yang akan membesuk kami beserta keluarga yang akan menunggui kami di RS. Tentu mereka ingin juga nyaman selama membesuk.
Jumat pagi, aku bersama suami, serta mamaku berangkat menuju RSPI untuk check in di kamar yang telah kami pesan. Aku memperoleh kamar 3316, di Wing A Gedung Baru RSPI. Setelah berbagai pengecekan di ruang VK Kamar Bersalin, dan serangkaian tes laboratorium, aku mulai masuk ruang operasi pukul 13.00 wib. Saat itu, kedua keluarga kami telah hadir untuk memberikan support untukku. Suamiku, mama papaku, mama papa mertuaku, sudah hadir menungguiku. Aku minta doa pada mereka semua untuk keselamatan ku dan bayiku. Sebelum operasi, suamiku menitipkan kamera kepada suster untuk dokumentasi proses kelahiran bayi kami, hal ini karena tidak ada seorangpun yang boleh masuk ke ruangan operasi.
Saat masuk ruangan operasi, perasaanku benar2 sudah ikhlas. Hanya doa yang terus2an aku panjatkan. Pukul 13.45 dokter anestesi mulai memberikan suntikan anestesi di tulang belakang. Saat itu juga aku merasa tubuh bagian bawahku langsung kebas tidak berasa apa2. Operasi siap dimulai. Dan aku dipasangi tirai sebatas dadaku. Pukul 13.55, hanya berselang 10 menit dari aku dibius, bayi perempuanku lahir. Alhamdulillah. Lansung terdengar suara tangisnya saat dikeluarkan dari perutku. Aku hanya bisa mengucap syukur terus menerus. Bayi perempuanku yang cantik telah lahir. Tak lama setelah itu, aku hilang kesadaran hingga 2 jam. Kondisi ku drop hingga 1 hari kemudian. Tensiku hanya berada di batas 90/60 dan aku sama sekali tidak bisa membuka mataku. Selama 24 jam dokter dan suster terus mengobservasi keadaanku.
Sabtu pagi, aku baru dapat membuka mataku. Alhamdulillah, dan aku baru bisa memberikan ASI-ku hari itu. Inisiasi Menyusui Dini (IMD) yang aku harapkan tidak dapat berlangsung karena kondisi ku yang tidak memungkinkan.
Dari cerita suamiku, begiku bayiku lahir, suamiku langsung mengazankan bayi kami. Suara tangisnya yang pecah, langsung terhenti begitu suamiku mengazankannya. Alhamdulillah. Semoga bayi kami, Quinayrra Citra Nafisha menjadi seorang perempuan yang sholihah, patuh pada orang tua, dan menjadi kebanggaan kami orangtuanya. Amin.
Hello world!
10 bulan yang lalu
0 komentar:
Posting Komentar