Lama ga update cerita di blog.. lebih banyak blogwalking aja.. Rasanya kok ya maleess to the max mau cerita di blog sendiri. Padahal udah diniatin klo blog ini tuh buat simpan arsip cerita Ayrra dari mulai lahir sampai setiap perkembangannya..
Hoshh.. hoshh...
Yuk mari.. Kumpulkan semangat.. Mulai nulis.. Jreng.. Jreeeenggg...
Duhh... karena kelamaan kesimpen di draft.. Jadi lupa gimana kronologisnya Ayrra diare. Tapi, cobalah dengan serpihan ingatan mama yang tercecer itu, mama akan tulis ceritanya disini.
Awalnya, tanggal 19 Feb mama dapat pengasuh baru. Pengasuh ini dari omongan dia dan tetangga MIL, sudah berpengalaman dan mau ga hanya sekedar mengasuh, tapi bisa juga masak. Oke lah, kita terima dengan sedikit interview dan lihat dia saat menggendong Ayrra. Ayrra kebetulan bukan tipe yang sulit dengan orang baru, jadi Ayrra happy happy aja digendong pengasuh baru itu, masih bisa ketawa cekikikan. Langsung kami bawa pulang si pengasuh baru, dengan harapan dia akan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan rumah kami.
Sesampai di rumah, karena hari sabtu, memang hari dimana mama sepenuhnya full memegang Ayrra, jadi Ayrra tidak dipegang oleh si mbak baru itu, sebut saja Imah. Nah, karena malam minggu adalah waktu hang out, jadi kami memutuskan untuk jalan-jalan ke PIM, dan mbak Imah tetap kami ajak, agar semakin mengenal keluarga kami. Ternyata, disini baru kelihatan belangnya. Mbak Imah ini ga bisa cekatan orangnya, padahal yang harus diurus adalah Ayrra yang notabene sedang banyak polahnya. Sampai sini, mama masih bisa tahan diri. Mungkin masih penyesuaian, begitu pikir mama.
Minggu pagi, mama mencoba untuk melihat bagaimana kerja si mbak Imah ini. Mama minta si mbak untuk menyuapi Ayrra. Ayrra disuapi sambil digendongnya. Awalnya mama melihat Ayrra masih enjoy aja disuapi si mbak. Sampai akhirnya mama berani meninggalkan mereka untuk mandi, mumpung Ayrra masih disuapi si mbak. Ketika mama selesai mandi, mama lihat Ayrra tidak ada di rumah. Mama cari di sekeliling rumah, ternyata Ayrra diajak jalan2 agak jauh dari rumah. Mama terangkan ke mbak, bahwa tidak baik jalan terlalu jauh dari rumah, karena cuaca juga sedang tidak bersahabat dan berbahaya bagi keselamatan mereka berdua. Si mbak mengerti dan membawa pulang Ayrra.
Selesai makan, Ayrra masih riang bermain. Siangnya, Ayrra mama ajak ke resepsi pernikahan temannya Eyang Putri. Mama ikut karena mengantar Eyang putri, karena Eyang Kakung sedang dinas keluar negeri. Selama berada di gedung resepsi, Ayrra lemeess sekali mukanya. Tidak seperti biasanya yang bila berada di keramaian ia akan heboh berceloteh. Ini kok diam saja? Mama juga mulai curiga. Ternyata ga lama setelah perjalanan pulang dari tempat resepsi, Ayrra mencret2, hingga mengenai gaun pesta mama. Alhasil, rencana mampir ke All Fresh Tb Simatupang untuk membeli buah Ayrra pun dibatalkan.
Sejak mencri2 di jalan itu, seharian itu Ayrra mencri2 sekitar 10x!!! Mama mulai panik. Langsung menuju Hermina untuk ke UGD agar mendapat penanganan yang maksimal. Suhu tubuh Ayrra juga makin meningkat hingga mencapai 38 dercel. Dokter yang menangani cukup responsif, begitu pula suster2 disana sangat cekatan. Ayrra yang mendapat nomor antrian 45, langsung didahulukan begitu mama beritahu kronologi sakitnya Ayrra hari itu. DOkter mengatakan Ayrra terserang infeksi virus diare, dan butuh banyak cairan agar tidak dehidrasi. Yang utama adalah menjaga agar tetap ada asupan cairan di tubuhnya. Tidak perlu dirawat dan diinfus, karena penanganan dari orang tua sudah cukup.
Okelah, mama lumayan ga panik mendengar diagnosa dokter. Malam itu kami pulang, dan segera memberi treatment terbaik untuk Ayrra. Pedialyte ga henti-henti nya mama berikan, begitu Ayrra BAB. Untungnya Ayrra ga susah untuk diminumkan Pedialyte, padahal menurut DSA biasanya baby sulit diminumkan cairan itu. Jadi, alhamdulillah Ayrra ga sampai dehidrasi.
Diare Ayrra berlangsung terus hingga hari ketiga, masih BAB hingga lebih dari 5x. Mama memutuskan untuk cuti dari kantor, hingga kesehatan Ayrra membaik.
Bagaimana si pengasuh baru itu? Ternyata oh ternyata.. Dia hanya besar omong saja. Nyatanya, memegang anak pun dia tidak bisa. Setiap Ayrra dipegang si mbak itu, Ayrra muntah. Entah bau badan atau memang feeling bayi yang lebih kuat untuk menyatakan bahwa si mbak ini tidak tepat untuk Ayrra. Hari keempat si mbak di rumah, dia meminta keluar. Syukurlah, karena mama sendiri sudah tidak sreg dengan si mbak baru ini. Mengurus bayi tidak bisa, dimintai tolong tidak dikerjakan, beberes tidak cekatan, de es bre de es bre.. Pyuuufff...
Sekeluarnya si mbak dari rumah, justru Ayrra makin membaik. Entah faktor psikologis atau apa, tapi hal yang sangat disyukuri oleh mama adalah Ayrra makin ceria. Walaupun berat badan Ayrra sempat turun hingga 900 gram (hiks.. hiks..) tapi yang utama bagi mama adalah Ayrra kembali sehat.
Total 5 hari mama tidak masuk kerja, karena mama ingin memastikan Ayrra benar2 telah sehat dan BAB nya kembali normal. Dan kolega kantor mama dengan baik hati membesuk Ayrra pada hari keempat mama tidak masuk kantor. Memang menjadi peraturan di kantor, jika tidak masuk karena alasan sakit atau ada keperluan lain, maka setelah hari ketiga sebaiknya dibesuk. Karena Ayrra pada hari keempat masih lemas, maka saat kolega mama ke rumah, Ayrra nangis2 terus. Untunglah atasan mama memaklumi, dan memberi mama izin tidak masuk selama Ayrra masih sakit. Makasih ya Pak Bos :)
Butuh waktu paling tidak seminggu untuk penderita diare pada bayi agar kembali normal. Itu waktu yang paling cepat menurut DSA. Biasanya sekitar 10 - 14 hari. Alhamdulillah, Ayrra kembali normal pada hari keenam. BAB normal, dan nafsu makannya pun normal juga.
Ada sedikit tips untuk menghadapi bayi diare menurut mama :
1. Jangan PANIK. Walaupun terdengar klise, namun yakinlah bahwa intuisi sebagai seorang ibu akan mengatakan bahwa bayi kita dalam keadaan masih kuat atau tidak menahan sakitnya.
2. Tetap susui bayi kita sesering mungkin untuk menghindari dehidrasi.
3. Tetap jaga asupan nutrisi pada bayi, berikan makanan secara normal, walaupun mungkin secara kuantitas agak dikurangi karena saat sakit, bayi cenderung sulit makan.
4. Lihat dan amati frekuensi BAB serta muntahannya. Beri cairan langsung sesaat setelah BAB cair nya atau sesaat setelah muntah, untuk kembali mengisi cairan tubuhnya. Pedialyte merupakan yang direkomendasikan untuk membantu menghindari dehidrasi pada bayi.
5. Jangan tunggu hingga bayi dehidrasi ketika ke DSA. Tanda-tanda dehidrasi bisa dilihat dari kurangnya frekuensi BAK, tidak keluarnya air mata saat bayi menangis, dsb. Amati tanda-tanda tersebut, dan tetap cukupi asupan cairan pada bayi.
Mudah2an sakitnya Ayrra kali ini bisa menjadi pembelajaran buat mama dan papa juga. Sehat selalu ya sayang.. Alhamdulillah, mama bisa selalu berada disamping Ayrra selama Ayrra sakit. Terima kasih juga untuk teman2 kantor mama..
Ps. Sakitnya Ayrra tanggal 21-25 Feb, tapi mama baru bisa tulis cerita ini di bulan April :)
Hello world!
9 bulan yang lalu
0 komentar:
Posting Komentar